• Menarik Dibaca

    Rabu, 11 Januari 2017

    Mebel Jepara : Perkembangannya Yang Meningkat dari Tahun Ke Tahun

    Mebel Jepara - Siapa yang tak tahu kota Jepara? Sentra ukiran dan pengrajin kayu terbesar di Indonesia ini menjadi sebuah spot yang paling dicari baik dari kalangan pecinta ukiran maupun kalangan pebisnis baik skala nasional maupun Internasional. Ukiran Mebel Jepara sudah mempunyai tempat di pasaran Internasional, dengan begitu sentra produksi ukiran Jepara pun masih menyisakan beberapa tempat bagi para pebisnis untuk memulai usaha.

    Ukiran Jepara paling populer disematkan pada Furniture Mebel. Dan perajin mebel Indonesia sebagian besar memang berada di Jepara. Tak ayal, dilansir dari okezone.com, sentra penjual mebel di Pondok Gede Jakarta pun mendatangkan barang pasokan khusus dari Jepara. Bahannya pun berkualitas, khas kayu jati Jepara. Mebel yang didatangkan dari Jepara juga tak hanya polosan saja, yang berukiran pun ada. Harga patokannya menembus level jutaan :
    Untuk sebuah meja makan, harga patokan bisa berkisar dari 3 juta hingga 7 juta rupiah; Lemari 2 pintu dari Jati Jepara bisa dipatok dengan harga 6 jutaan; Kursi ukiran bisa mencapai angka 9 jutaan; dan kuris meja polosan mencapa angkan 5 jutaan. Angka yang cukup menggiurkan untuk berbisnis, bukan?
    Pengerjaan bermacam furniture mebel bertempat di Jepara, sehingga sangat wajar apabila Jepara dijadikan sebagai sentra pengrajin dan pembuatan mebel terbesar di Indonesia. Saking terkenalnya produk hasil pengrajin mebel Jepara di dalam dan luar negri, pada 15 Maret 2016 lalu, mantan presiden Susilo Bambang Yudhoyono memborong mebel jepara di sentra industri ukir dan patung Desa Mulyoharjo, Jepara. Tidak main-main, seperti yang dilansir dari jeparahariini.com, SBY memborong Mebel Jepara seharga lebih dari 30 juta rupiah.

    Tak hanya mantan orang tertinggi Indonesia yang berkunjung dan membeli beberapa furnitur di sentra pengrajin mebel Jepara. Dubes Inggris untuk Indonesia, Moazzam Malik pada februari 2016 lalu juga mengunjungi dan berdialog dengan pengrajin mebel Jepara di desa Kecapi, kecamatan Tahunan, kabupaten Jepara. Ia melihat langsung bagaimana proses produksi pengerjaan mebel polos, ukir serta kerajinan rumah tangga lainnya. Ia juga memastikan bahwa seluruh pasokan furnitur ukir dari Jepara bersertifikat legal. Dan seluruh pebisnis industri Mebel Jepara sudah mengantongi Sistem Verifikasi dan Legalitas Kayu atau disebut SVLK dan hal tersebut sudah memenuhi persyaratan untuk bisa masuk ke pasar internasional.
    Bisa dikatakan perkembangan mebel Jepara meningkat signifikan dari tahun ke tahun. Bahkan berita yang lebih menyenangkan bagi para pebisnis mebel Jepara adalah nilai ekspor mebel Jepara yang tembus mencapai USD 159 juta (tahun 2015). Ditambah degan data Asosiasi Mebel Dan Kerajinan Indonesia yang mencatat angka fantastis USD 1,9 miliar sebagai nilai total ekspor mebel Indonesia. Angka ini merupakan yang tertinggi sepanjang penjualan dan ekspor mebel Jepara ke pasar luar negri. Hal ini membuktikan bahwa mebel Jepara masih mempunyai banyak peminat baik di dalam maupun di luar negri, sehingga perkembangannya sangat signifikan dan menarik dari tahun ke tahun.
    Di kalangan eksportis pasar internasional, penjualan mebel Jepara ini masih menguasai di sektor pasar Uni Eropa dan Amerika Serikat. Tentunya juga tidak melupakan pasar ASEAN dan Timur Tengah yang cenderung menjadi pasar utama menurut sebagian besar pengrajin Jepara. Kebutuhan akan mebel ini masih sangat tinggi, terlebih bisnis properti baik di tingkat nasional maupun internasional juga sedang berkembang pesat. Sejalan dengan tumbuhnya bisnis properti maka bisnis furnitur pun akan ikut tumbuh. Dan industri mebel Jepara sudah siap dengan kemungkinan memasok produk dalam skala besar ke seluruh Indonesia.

    Dengan begitu, dalam kancah regional, industri mebel Jepara masih menjadi penyumbang produk domestik regional bruto tertinggi se-kabupaten Jepara. Sektor industri mebel dan kerajinan kayu ini mengalahkan angka penjualan sektor pertanian, yang sebelumnya digalakkan pemerintah setempat.

    Namun, dari perkembangan diatas, sebenarnya industri mebel Jepara pernah mengalami pasang surut bisnis dari tahun 2004 hingga 2007. Pada masa kejayaan atau booming-nya produk furnitur khas mebel Jepara, yaitu pada tahun 1998 sampai 2003, data dari Asosiasi Pengrajin Kecil Jepara menunjukkan kisaran banyaknya pengrajin mebel hingga angka 20 ribuan. Namun setelahnya, menurun drastis menjadi 12.000-an. Hingga 2007, pengrajin  yang bertahan hanya 7.800 unit usaha/pengrajin saja. Hal ini dikarenakan adanya ketidak seimbangan antara bea produksi dan penjualan, serta muncul banyak persaingan tak sehat antar pengrajin.

    Kelesuan ini membuat industri pengrajin menekan biaya bahan baku produksi dan memutuskan kontrak kerja sepihak dengan perkerja. Selain itu, pengusaha memanfaatka limbah kayu untuk dijadikan mebel, baik sebagai bahan tambahan atau memakai sistem daur ulang (bahan bekas menjadi bahan baru siap pakai). Desain ukiran mebel Jepara pun dibuat seminimalis mungkin, namun tetap menonjolkan citra khas mebel buatan Jepara.
    Inovasi pun dibuat. Para pengrajin semakin kreatif dalam menghasilkan kaeta dan efektif menggunakan bahan baku. Tidak melulu memakai kayu jati sebagai bahan ukiran mebel Jepara, namun juga mengandalkan bahan kayu lainnya meski nilai jual jati tetaplah yang tertinggi. Bahan kayu yang menjadi lirikan para pengrajin saat ini adalah kayu trembesi dan asam Jawa.

    Aneka mebel Jepara yang paling diminati adalah perlengkapan furnitur, kerajinan kayu, kayu olahan, ukiran pada mebel dan pelengkap rumah lainnya. Berbicara soal mebel Jepara, memilikinya satu unit saja ada sebuah prestige, tak ternilai harganya. Citra yang melekat pada kerajinan mebel khas Jepara inilah yang membuat penjualannya semakin meninggi dan bisnis mebel khas Jepara semakin dilirik kalangan atas.






    Meski begitu, tentu persaingan di sektor industri selalu ada, membayangi kemajuan industri mebel Jepara. Kelesuan sektor ini rupanya dimanfaatkan oleh industri garmen untuk menguatkan bisnis di wilayah Jepara, dan mengancam eksistensi mebel dan ukiran khas Jepara. Industri garmen kian menjamur di Jepara, hingga membuat pelaku bisnis industri mebel Jepara kewalahan karena tidak adanya tukang finishing, bagian amplas, bahkan tukang ukir. Sebagian diantara pelaku industri mebel tersebut mengaku telah menolak pesanan dalam jumlah besar karena kekurangan tenaga kerja.

    Hal ini lantas menjadikan pemerintah setempat memiliki PR khusus untuk mempertahankan Jepara sebagai kota Ukir, bukan kota kain apalagi kota obras. Jika bidang garmen ini terus menaik dan banyak pengrajin yang alih profesi, kemungkinan nilai ekspor mebel Jepara ke luar negri pun merosot tajam.

    Padahal, banyak investor asing yang tertarik dengan industri satu ini. Selain kualitas yang sudah diakui di mata dunia, nilai jual yang tinggi (bahkan bisa mencapai 5 kali lipat dari produk furnitur yang dibuat pabrikan) serta hasil karya seni pada ukirannya, produk mebel Jepara pantas disandingkan dengan produk2 furnitur buatan luar negri. Namun, kendala modal selalu menjadi kendala. Ini juga menjadi PR khusus pemerintah agar selanjutnya industri mebel Jepara dapat berjalan lancar, sehingga nilai ekspor menaik dan sekaligus mensejahterakan pelaku bisnis dan pengrajin asli Jepara. 

    Nah, setelah menilik perkembangan industri Mebel Jepara diatas, apakah Anda tertarik untuk memiliki bisnis Mebel Jati Jepara?

    Tidak ada komentar:

    Posting Komentar

    Ucapan Terimakasih

    Terima Kasih kepada Allah SWT atas segala nikmat yang telah diberikan, sholawat dan salam terucap untuk Nabi besar Muhammad SAW. Terima kasih kepada kedua orang tua yang sudah mendukung juga keluarga besar serta teman-teman semua. Terima kasih kepada Google dan juga Sharing Informasi + Jeparadise Blog + komunitas Nur Huda + Jeparadise Blog, semoga ilmu yang ada diweb ini bermanfaat untuk semuanya.

    Download